Anniversary Trip : Lereng Gunung Ungaran-Curug Benowo-Curug Lawe (Part 1)

Udah lumayan lama nggak berpetualang berdua dengan suami, akhirnya tahun ini kami memutuskan untuk merayakan anniversary pernikahan ke-5 dengan hiking ke lereng gunung Ungaran di Semarang, Jawa Tengah sebagai pemanasan untuk trip-trip selanjutnya.



Tujuannya adalah untuk menemukan dua curug (air terjun) yaitu Curug Benowo dan Lawe yang masih jarang dijamah orang. Dari cerita beberapa orang, dua curug tersebut terletak di tengah-tengah hutan dengan medan untuk sampai kesananya yang lumayan berat jika dibandingkan curug-curug lain yang ada di daerah sana, seperti Curug Semirang. Awalnya kami berpikir, seberat apa, sih? Paling-paling...Hahahaha. Ternyata memang perjalanan menuju kedua curug ini tidak diperuntukkan bagi yang nggak terbiasa jalan jauh, tracking/hiking menembus hutan, dan ya...untung banget kami nggak jadi mengajak si kecil ikut dalam petualangan seperti biasanya. Kalo iya...waduh.

Perjalanan kami dimulai dengan mengendarai motor dari Kota Semarang Bawah menuju ke daerah Kampus Unnes (Universitas Negeri Semarang) di Sekaran. Dari Asrama Mahasiswa Unnes Sekaran, kami bergerak menuju ke arah Boja. Di sepanjang perjalanan, di kiri-kanan jalannya kami menemukan banyak sekali Pohon Rambutan yang sedang berbuah, juga para penjual Durian serta Rambutan. Sebenarnya, kepingin juga berhenti sebentar buat menikmati Durian karena saat itu harumnya menguar di udara dan menggoda penciuman, tapi karena takut keburu hujan, kami memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dilanjutkan hingga bertemu sebuah kompleks pemakaman yang berada di sisi kanan jalan, yaitu Pemakaman Darul Mukminin Siplaosan Sumur Gunung. Dari sana, belok ke arah kiri jalan menuju Desa Kalisidi. Kedua curug tersebut berada di desa tersebut, namun jalan masuk ke dalamnya masih lumayan jauh, sekitar 15-20 menit perjalanan dengan menggunakan motor. Setelah itu kami menemukan sebuah pos jaga yang memberitahukan tentang arah menuju ke curug. Dari pos jaga tersebut, kami mengendarai motor memasuki area Perkebunan Cengkeh Zanzibar hingga sampai di sebuah pos jaga yang kedua. Di sini, kami harus memarkir motor dan membeli tiket masuk sebesar 3000 rupiah untuk satu orang, dan membayar uang parkir motor. Dari pos tersebut perjalanan dengan berjalan kaki pun dimulai.

Saat masih mengendarai motor tadi, kami sudah disuguhi pemandangan yang indah dan menjanjikan, hamparan kebun cengkeh dengan latar Gunung Ungaran yang dibalut kabut putih. Udara di sekitarnya juga segar dan berbau harum rempah cengkeh. Kami pun memulai perjalanan membelah kebun cengkeh hingga menemukan petunjuk arah yang ditempelkan pada sebuah pohon.


jalanan yang membelah kebun cengkeh zanzibar
jalanan yang membelah kebun cengkeh zanzibar

jalanannya lumayan berbatu

curug lawe dan benowo
petunjuk pertama rute ke arah curug

Dari pohon tersebut kami berjalan turun sampai menemukan saluran irigasi. Rute dilanjutkan dengan menyusuri jalan beton yang merupakan bagian sisi dari saluran irigasi. Saluran irigasi ini memanjang di bibir jurang. Rutenyaterdengar membosankan? Jangan salah, meskipun hanya menyusuri saluran irigasi tapi di sisi kanan dan kiri, pemandangannya lumayan juga. Jalur ini hanya bisa dilewati sendiri-sendiri dan saat berjalan juga hrus hati-hati agar tidak terpeleset ke jurang.

menyusuri saluran irigasi menuju curug benowo
menyusuri saluran irigasi

tali putih untuk membatasi saluran irigasi dengan bibir jurang




pemandangan di bawah jurang

Di sisi kiri, terlihat jurang yang ditutupi rimbunnya pepohonan hutan basah dan aliran sungai dengan bebatuannya. Hati-hati saat berjalan di sepanjang saluran irigasi yang cuma bisa dilalui satu orang ini karena selain di sisi kirinya terdapat jurang, terkadang jalannya juga licin oleh lumut dan konturnya berubah-ubah, kadang berkelok, kadang menanjak/berundak. Setelah menyusuri jalanan sepanjang saluran irigasi, kami menemukan jembatan kayu dengan pegangan besi yang terlihat kokoh. Di bawah jembatan tersebut mengalir saluran irigasi.

jembatan cinta curug lawe
kata orang sih, namanya jembatan cinta




Di sisi kanannya, banyak sekali aneka tumbuhan yang bisa ditemukan dari mulai tanaman berry dengan buah kecilnya yang merah, sampai aneka phon, tanaman rambat, dan pakis-pakisan.



Setelah menyusuri saluran irigasi kami mendapati sebuah bendungan yang dapat digunakan untuk beristirahat sesaat. Saat sampai di sini, jangan buru-buru melanjutkan perjalanan berikutnya. Istirahat dulu yang cukup karena jalur berikutnya akan menguras tenaga.

bendungan : tempat peristirahatan pertama



Di jalur berikutnya, kami mendapati jalur bebatuan yang konturnya lumayan menanjak. Kami juga harus menembus hutan yang lumayan lebat, kemudian melewati jembatan yang terbuat dari kayu atau bambu, menuruni jalan bebatuan yang lumayan licin, dan menyeberangi sungai. Rasanya, seingat kami tidak ada tempat landai untuk beristirahat sejenak. Selama perjalanan, kami sering tertipu oleh suara gemericik air sungai yang kami pikir adalah pertanda bahwa lokasi air terjunnya sudah dekat. Tapi ternyata masih jauh :) Oya, jangan khawatir tersesat karena di dalam hutan sudah ada papan penunjuk arahnya.


gemericik air sungai





kontur tanah mulai menanjak dan berbatu

setelah berjalan lumayan jauh, akhirnya menemukan tanda ini

Akhirnya, setelah perjalanan yang lumayan, kami bertemu dengan petunjuk yang mengarahkan ke Curug Lawe atau Benowo. Kami pun memilih untuk mengunjungi Curug Benowo terlebih dahulu. Rute menuju ke sana..hmmmmm...lumayan, deh. Buat yang menyukai kegiatan alam/pecinta alam, rutenya mungkin dianggap biasa, tapi bagi yang belum terbiasa, bisa dibilang lumayan berat. Nikmati saja karena reward sudah menunggu di depan. Setelah melewati jembatan kayu dan menyeberangi sungai, dari kejauhan sudah terdengar suara gemericik air terjunnya. Lega rasanya mendengar suara tersebut. Tapi untuk sampai kesana tidak semudah yang dibayangkan, jalan menuju air terjun cukup menanjak, kami harus memanjat beberapa bebatuan agar bisa tiba di atasnya. Dan akhirnya.....kami berhasil sampai di air terjun pertama. Inhale-Exhale sepuasnya karena udaranya bener-bener sejuk.


Curug Benowo

pemandangan ke bawah dari arah curug benowo

Pemandangannya bener-bener bikin semua kelelahan yang tadi didera selama perjalanan menghilang begitu saja. Nikmati rintik-rintik air yang jatuh ke permukaan kulit, nikmati relung-relung dan kontur bebatuan air terjun yang sekilas berbentuk seperti wajah orang yang dipahat, dan ambil sebanyak-banyaknya energi positif yang masih murni di sana. Berlama-lamalah di air terjun ini (Benowo), karena di air terjun kedua kondisinya kurang memungkinkan untuk berlama-lama. Kenapa. Tunggu sambungan ceritanya, ya. :)

5 comments:

  1. Mbak Niaaaaa.....
    mesti coba ke tempat ini nihh, cerita & gambar2mu bikin pengen cepet2 kesana

    miss u :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haiii nov, miss u too..iya main kesana deh. seruuu

      Delete
  2. kereeeen.. kapan ya saya bisa kesana........?

    ReplyDelete
  3. aseeek banget sekali tempatnya jadi pengen kesana


    dari : wong semarang

    ReplyDelete
  4. benar-benar menakjubkan, salam

    ReplyDelete

Powered by Blogger.