Pregnancy Journey : Menuju Hari H VBAC & Gentle Birth After Cesarean Part #1

36 Weeks
Memasuki usia kehamilan 36 minggu (periode tanggal 15-21 desember 2014) banyak sekali pemecah fokus yang bikin daftar check list persiapan persalinan terabaikan. Pasalnya, di minggu ini saya malah keasyikan untuk mempersiapkan barang-barang kebutuhan bayi dan mengepak barang-barang karena rumah akan direnovasi.



"Direnovasi? Haaa, seriusan?" Banyak kerabat dan keluarga yang mempertanyakan. "Serius lo mau renovasi rumah pas mau punya baby gini?" Saya dan suami mengangguk mantap. "In shaa Allah bisa, semua udah dipersiapkan dengan matang." Sebenarnya rencana renovasi ini memang mundur dari rencana awal karena nunggu desainnya jadi dulu dengan sempurna lah, RABnya sesuai, sampai nunggu musim panen 'pohon duitnya' tiba, hehehe. Dan satu lagi, hari H renovasi dimulai juga sudah ditetapkan sama Pak Suami, yaitu tanggal 8 Januari, satu hari sebelum HPL si baby. Kenapa tanggal 8, hanya Tuhan dan Pak Suami yang tahu, sebagai istri soleha :p (kibasin jilbab), saya sih, nurut aja dan mencoba percaya sama mantra ajaibnya Pak Suami. Afirmasi positif yang selalu diomongin Pak Suami adalah: "Semua bakal pas waktu-waktunya." 

Tanggal 17 Desember saya masih mengisi kelas parenting di sebuah TK di Semarang, dan memutuskan buat off sementara alias cuti mempersiapkan hari H persalinan. Tanggal 20-nya, Si Sulung Ezra bagi rapot dan setelah itu memasuki masa liburan sekolah. Saya sudah merencanakan kalau liburan sekolahnya ini bakal jadi momen quality time saya dengan Ezra. Jadi, selain sibuk dengan urusan rumah dan persiapan persalinan, porsi waktu terbesar, saya habiskan bersama Ezra. Sayangnya, saya tetep gagal fokus buat mengikuti daftar check list persiapan persalinan; olahraga jongkok berdiri dan pelvic rock masih seingetnya, pijet perineum kalau pas mandinya lama, kalau pas mandinya sekenanya, pijat perineum pun terlupakan, terus juga ngga sempet relaksasi sambil mindfullness meditation. Pak suami juga gagal nyusun father script yang mana itu bakal dipraktekkan tiap malam sebelum bobo mulai di usia kehamilan 36 minggu.

37-38 Weeks
Minggu ke-36 berlalu. Memasuki minggu ke-37 dan 38 self awareness buat back on the right track dan semangat untuk fokus pemberdayaan diri muncul lagi. Supaya lebih semangat, saya sama Pak Suami berencana untuk membuat video day by day perjalanan menyambut kelahiran si baby. Jadi, momen ketika saya prenatal yoga, ikut kelas persiapan, dan sebagainya akan didokumentasikan. Jadinya harus bener-bener melakukan persiapan persalinan dengan sepenuh hati, bukan cuma demi mengisi check list semata. Alhamdulillah, hari-hari di minggu ke-37 berjalan sesuai harapan.

Tanggal 26 Desember, hari ulang tahunnya Ezra, awalnya kita berencana buat bikin birthday trip kemana gitu, tapi entah kenapa di hari H rasanya nggak sreg buat pergi-pergi terlalu jauh dari rumah, jadinya kami sepakat bikin surprise kecil-kecilan buat Ezra di rumah. Just the three of us. Tanggal 27 Desember-nya, saya kontrol ke Bidan Naning di RB. Ngesti Widodo Ungaran; disarankan untuk mulai latihan Pelvic Rocking dengan lebih intens, diberi tambahan suplemen Lactamam yang akan membantu memunculkan kontraksi rahim secara alami, dan mulai memberi perhatian pada kontraksi-kontraksi yang terjadi, serta komunikasi dengan janin.

Di minggu tersebut, belum ada tanda-tanda persalinan signifikan yang saya rasakan. Masih harap-harap cemas; bakal seperti apa nanti tanda-tanda persalinan yang benerannya.

39 Weeks
Memasuki minggu HPL rasanya semakin deg-degan, dan semakin mengharapkan bisa merasakan yang namanya kontraksi asli itu seperti apa. Dulu, saat kehamilan pertama, karena KPD dan diinduksi, saya jadi nggak benar-benar bisa merasakan yang namanya kontraksi menjelang persalinan itu rasa aslinya seperti apa.

Tanggal 6 Januari, saya kembali kontrol ke Bidan Naning. Setelah dilakukan PD, diketahui kalau posisi kepala bayi sudah mengunci di bawah, tetapi dinding rahim masih agak tebal, dan kepala baru ada di pintu 1. Waktu ditanya tentang kontraksi dan tanda-tanda persalinan, lagi-lagi saya menjawab kalau kontraksinya masih belum signifikan, juga belum ada tanda-tanda persalinan seperti flek. Bu Naning kemudian menyarankan saya untuk kontrol ke SPog dan melakukan USG untuk melihat posisi janin, taksiran BB, dan posisi plasenta sebagai bahan rujukan.

Dari hasil kontrol ke Spog, dokter juga menyatakan kalau posisi kepala janin sudah mengunci di bawah, tetapi dinding rahimnya masih tebal. Saya kemudian diminta datang kembali untuk kontrol ke Spog tanggal 9 Januari-nya sekalian melakukan CTG. Ada cerita lucu waktu saya kembali kontrol di hari HPL ke Spog. Tahu-tahu ketika baru masuk ke ruangan, dokternya menyapa saya begini: "Ibu, apa kabarnya, sudah lahiran kan, ya?" Mendengar itu, rasanya gimanaa gitu, apalagi dengan perut masih membuncit, dan baru beberapa hari yang lalu kami bertemu. Saya berusaha maklum juga sih, mungkin perut buncit saya tersamar oleh dress hitam longgar yang saya kenakan, atau #mungkindialelah karena sudah berhadapan dengan sekian banyak pasien pada hari itu. Tapii...tapi, yasudahlah. Kabar baiknya, menurut Spog saya, selama hasil CTGnya baik, kondisi janin masih sehat maka saya masih punya kesempatan untuk melahirkan secara normal, dan bisa menunggu sampai seminggu lagi dari HPL. Menurut Spog, batas waktunya adalah tanggal 16 Januari. Oke, saya pun mulai bisa merasa tenang.

Yang bikin perasaan mulai ngga tenang justru ketika melakukan CTG di rumah sakit. Dimulai dengan suster yang mendampingi saya CTG yang mulai bertanya-tanya perihal pengalaman persalinan pertama, dan dengan nada menakut-nakuti mengatakan kalau sebagian besar ibu yang dulunya melakukan persalinan SC dan pada kehamilan kedua lewat dari HPL, biasanya akan SC lagi. "Bisa sih, Bu lahiran normal, tapi sakitnya itu berkali-kali lipat lhoo Bu, kalau sudah pernah SC sebelumnya, soalnya kan ada bekas lukanya,...tapi kalau mau ditunggu ya, monggo, tapi Ibu tetep nggak bisa diinduksi karena sebelumnya sudah pernah Cesar." 

Saat itu, ketika CTG saya cuma ditemani Ezra, Pak Suami tiba-tiba ada meeting dadakan ketika sedang mnengantar, jadinya nggak ada yang membantu untuk 'sealing' fokus pada saat itu. Perasaan was-was pun mulai muncul, apalagi mendengar kata 'berkali-kali lipat'. Saya yang memang pada persalinan pertama mengalami kontraksi dengan induksi hanya sampai bukaan ketiga saja, langsung mulai bertanya-tanya: 'Beneran, nih?' Tapi, untuk melawan pikiran-pikiran negatif dan fokus yang bisa-bisa mulai membelok, saya memutuskan setelah CTG saya akan ke klinik dr. Nita untuk melakukan akupuntur sebagai langkah induksi alami.

Sore setelah CTG, dengan ditemani Ezra yang beberapa hari belakangan jadi 'Kakak Siaga' dan selalu ngintil kemana pun saya pergi, saya memantapkan niat buat akupuntur. Padahal ya...kalau mau jujur, saya belum pernah akupuntur sebelumnya, dan sedikit ngeri membayangkan harus ditusuk-tusuk jarum di sana-sini. Tapi demi bisa VBAC, i'll do it. Dan setelah mengabaikan bayangan-bayangan kurang menyenangkan soal akupuntur, saya pun masuk ke ruang praktek dr.Nita dan mengutarakan maksud saya. FYI, dr. Nita ini memang sudah sering menangani pasien bumil yang lebih bulan dan ingin dilakukan induksi alami dengan akupuntur. Proses akupuntur pun berlangsung selama kurleb 45 menit...dan ternyata memang nggak sakit, malah rasanya rilekssss. Saya nyaris ketiduran, kalau nggak bolak-balik ditanyain sama Ezra yang mengira Bundanya sedang setengah disetrum. "Bun, Bunda kok, ngga loncat-loncat kayak orang kesetrum sih, kok Bunda santai-santai aja, rambutnya juga ngga berdiri, emang jarumnya ngga tajem ya, Bun...Bunda beneran ngga sakit ini? Dan seterusnya :D

Selesai akupuntur, saya pun bertanya pada dr. Nita, apa efek yang akan saya rasakan setelahnya. Menurut dr. Nita, malam harinya mungkin saya akan tidur lebih rileks, dan mungkin akan mulai muncul kontraksi yang signifikan, dan jika selama dua hari belum ada efek yang terasa, maka proses akupuntur bisa diulang kembali.

Pulang akupuntur, malamnya saya memang merasa lebih rileks, tapi tetap rasanya harap-harap cemas menanti yang namanya kontraksi dan tanda-tanda persalinan lain yang belum juga muncul. Giliran Pak Suami yang mengeluarkan jurus-jurusnya untuk membantu munculnya kontraksi; memijit di bagian kaki (tiga jari di atas mata kaki), dan pijat oksitosin, dan endesbre-endersbre *sensor, hehehe.

Hari-hari di minggu kehamilan ke-39 pun akan segera berlalu. Sabtu pagi, sehabis mandi dan melakukan pijat perineum, tiba-tiba saya mendapatkan serangan panik karena merasa ada sesuatu yang rembes di CD, tapi saat mengecek, yang keluar hanya cairan bening tapi tidak berbau, rasanya deg-degan dan tiba-tiba takut mengalami KPD lagi seperti dulu. Pagi itu, setelah menyakinkan diri kalau cairannya nggak keluar secara terus-menerus, saya memutuskan buat rileks dan memvisualisasikan kembali bayangan positif tentang persalinan yang diharapkan, tapi kemudian jadi buyar karena teringat dengan Birth Plan B yang belum mantap. Pas lagi memikirkan Birth Plan B, saya kontak-kontakan dengan Mba Arin yang sama-sama sedang masa penantian dan sudah mendekati HPL, ternyata dia sedang kontrol ke dokter yang sekiranya akan menjadi rujukan untuk Birth Plan B, saya pun teringat juga saran Bu Naning tentang Spog pro normal yang juga bisa menjadi rujukan apabila ada indikasi medis untuk melakukan SC secara gentle. Pagi itu, dengan agak terburu-buru saya dan Pak Suami memutuskan buat mencari second opinion dan menemui Spog yang bersangkutan karena memang setelah CTG, Spog yang pertama mengatakan kalau bisa sebelum tanggal 16 sudah ada tanda-tanda persalinan, karena plasentanya sudah mulai ada tanda-tanda pengapuran dan ada partikel kecil melayang-layang di cairan ketuban, tanda ketuban mulai mengeruh. Hiikss...kenapa jadi makin nggak karuan ya perasaannya.

Beruntung, Spog yang akan kami temui itu memberi kesempatan buat kontrol, padahal hari itu sebenernya beliau tidak ada jadwal praktek dan hanya janjian dengan Mba Arin dan satu pasien lagi, tapi karena pasien yang satunya membatalkan, saya jadi bisa konsul dengan beliau. Saat konsul dengan beliau, saya bisa merasakan perbedaan antara Spog pertama dengan yang kedua. Penjelasan Spog yang kedua ini lebih rinci dan sabar banget menghadapi pasien bumil lebih bulan seperti saya. Dari beliau, saya diberi waktu sampai tanggal 12 Januari untuk bisa lahiran normal dengan alasan yang kurang lebih sama dengan Spog pertama; kesejehateraan bayi di dalam rahim, ketuban yang sudah mulai ada partikel-partikelnya, dan plasenta yang mulai mengapur.

Dari penjelasan beliau, permasalahan yang terjadi di saya, mengapa saya tidak kunjung mengalami kontraksi yang diharapkan, kemungkinan adalah reseptor yang mengatur pelepasan hormon oksitosin, pokoknya sepenangkapan saya gitu, deh. Beliau juga mengatakan, biasanya bumil-bumil yang melahirkannya lebih bulan, kasusnya biasanya akan berulang pada kehamilan berikutnya. Tapi beliau tetap menyemangati kalau selama dua hari ini masih banyak yang bisa dilakukan untuk lahiran normal. Kontrol dengan Spog kedua ini ditutup dengan surat pengantar seandainya tanggal 12 berlalu tanpa ada tanda persalinan yang signifikan, maka saya harus segera SC.

Beres urusan pembayaran, kami langsung cabut dari RS dan cepet-cepet jemput Ezra dari sekolahnya dulu karena jam pulangnya udah lewat, setelah jemput, kami kembali ke RS untuk survei tempat, biaya, dsb seandainya nih, seandainya saya harus SC lagi. Setelah itu, suami tiba-tiba tampak lemes, dan ngajak saya duduk di bangku taman yang ada di RS untuk ngobrol. Melihat raut wajahnya, saya tahu obrolannya bakalan serius. Heart to heart, akhirnya saya tahu kalau Pak Suami merasa berat kalau saya harus SC lagi, dan tiba-tiba waktu mengutarakan pikirannya, dia mrebes mili gitu, hikss saya jadi tambah panik dong. "Aku tuh, nggak mau kejadian kayak Ezra dulu keulang lagi, rasanya kok sedih ya, kalau kamu harus SC lagi, kayak apa-apa tuh dikontrol sama manusia, dikerjain sama RS karena kita minim pengalaman, padahal lahiran anak tuh, harusnya kan sesuai kehendak yang di Atas waktu-waktunya, bukannya manusia yang netapin tanggalnya. Apalagi selama ini kamu udah belajar banyaakk banget..."

Respon saya waktu itu sudah mengarah ke pasrah, " Sayang, aku ini kan cuma dititipin sama Allah untuk melahirkan anak ini, dan takdirnya lahir ke dunia sudah ditulis sama Allah, dia mau lahir dengan cara apa. Mau normal, aku In Shaa Allah sudah sangat siap, kalau ternyata harus SC, aku juga In Shaa Allah sudah siap. Semua ini juga kehendak Allah, kita pasrah aja, ya."

Saya mencoba menenangkan dan bilang, kalaupun SC setidaknya Spog ini bisa melakukannya dengan gentle, terus bisa mengakomodasi birthplan B kita, tapi suami tetep belum puas.

"Coba kamu kontak Bidan Naning, kita harus gimana? Semua-semuanya di-deadline hari Senin besok, kan aku juga bingung mesti gimana ini. Kalau kita ke RS dulu, pasti kamu bakal SC lagi..."

Akhirnya setelah ngobrol sama Bidan Naning via BBM, kami pun membuat keputusan bersama : "Senin besok, kita fokus dulu ke Bidan Naning, ya." Dan Pak Suami pun tampak lebih tenang. Sepulangnya dari RS dia langsung ngajak saya makan Es Duren. Biar cepet kontraksi, katanya.

Sampai di rumah, niatnya mau semeleh, pasrah dan berserah diri, mau santai dan nonton video-video persalinan normal, tapi malah insting nesting-nya kambuh, saya malah nggak bisa diem, bawaannya mau nyapu, ngepel, dan bersih-bersih kamar terus. Akhirnya, daripada capek nggak puguh, saya pun memutuskan untuk spa bumil. Keep calm and surrender. Allah sudah siapkan jalan dan waktu terbaik untukmu lahir ke dunia ini, Nak. Dan Ibu, hanyalah dititipi kamu, Ibu cuma diminta untuk terus belajar, siap, dan ikhlas.

(to be continued)

1 comment:

  1. Mba kasih bisikan dong siapa spog yg kedua itu? Beliau pro normal ya? Dl anak pertama sy jg di ngesti widodo,cm fasilitas ga kyk skrg

    ReplyDelete

Powered by Blogger.