Drama Korea 2521 : Pelajaran Tentang Parenting & Minat-Bakat Remaja

Drama Korea 2521 : Pelajaran Tentang Parenting & Minat-Bakat Remaja

Tadinya waktu dikasih bocoran ending Drama Korea Twenty-Five, Twenty-One ini agak males mau nontonnya, eh tapi nggak tahu kenapa karena suka sama Kim Tae-ri jadi cobain nonton episode pertama dan ketagihan. Tapi yang bikin pengin lanjutin nonton ini adalah karena ceritanya relate banget sama kehidupan saya sebagai seorang ibu yang punya anak remaja. Secara nggak langsung ada beberapa pelajaran tentang parenting untuk anak remaja dan soal menemukan passion atau minat dan bakat. 


Jujur ya, ini sedikit curcol, sebagai seorang ibu dengan anak yang masuk ke usia remaja, belakangan mulai timbul 'ketegangan-ketegangan', terutama soal habits yang beda banget sama zaman saya dulu soal belajar, dll. 

Dulu, dalam satu tahun saya mungkin bisa menamatkan puluhan buku, plus buku yang digunakan sebagai hiburan, contohnya komik. Sekarang, anak-anak cukup memencet remote televisi untuk dapat hiburan, atau mantengin layar hape, nggak ada cerita rebutan buku di tempat penyewaan. 

Iya sih, emang nggak boleh banding-bandingin zaman saya dulu dengan zaman anak saya sekarang, tapi kadang ada hal yang bikin bertanya-tanya, kayak misalnya nih, Kakak dapet pelajaran prakarya di sekolah, di benak saya kalau pelajaran prakarya itu kan isinya praktek dong ya, eh tapi ini ketika saya tanya, pelajaran prakarya yang dikerjakan itu soal-soal teorinya. 

Atau masalah yang juga cukup penting, soal paparan internet, penggunaan gadget, lamanya screen time, duuh, puyeng deh soal ini kalau nego sama si anak remaja. Tapi kita nggak bahas soal itu dulu ya. 

Di drakor 2521 ini, saya merasa bisa nostalgia dengan masa-masa SMA, sama kayak Na Hee-do yang kekeuh mengejar passion-nya, di masa itu, saya juga merasakan bener-bener ingin bisa mengaktualisasikan diri dengan hal-hal yang saya sukai. Meskipun begitu, tidak semua hal yang kita sukai dan bisa kita kerjakan akan didukung oleh orangtua. 

Kalau dipikir lagi, di titik itu, sebenarnya peran ortu sangat besar agar anak bisa menemukan dan menjalani passion-nya. Seringkali masih ada self talk, kalau aja dulu dibolehin begini atau begitu... 

Tapi mungkin ada beberapa hal yang saya kurang keras untuk meminta izin kepada ortu, alih-alih memaksakan apa yang ingin saya lakukan, saya merasa lebih aman untuk mengikuti keinginan dan harapan orangtua. 

Tidak semua anak se-kekeuh Na Hee-do dalam mengejar passion-nya, atau katakanlah minatnya. Meski awalnya tidak mendapatkan dukungan dari ibunya, karena dianggap tidak berbakat, Na Hee-do tetap kekeuh menjalani olahraga anggar meski klub di sekolahnya dibubarkan karena krisis ekonomi. 

Na Hee-do dan olahraga anggar

Ibu Na Hee-do penyiar berita


Berkaca dari drakor tersebut, kemudian kita bisa melihat sosok Na Hee-do ketika sudah menjadi seorang ibu dan memiliki seorang putri, berbeda dengan ibunya dahulu, Na Hee-do sebagai seorang ibu justru terlihat sangat supportif kepada anaknya yang sedang menekuni balet. 

Kim Min-chae balerina

Choi Myung-bin




Sebaliknya, justru anaknya yang merasa bahwa menekuni balet berarti dia harus berprestasi di bidang tersebut, dan jika tidak bisa berprestasi, ia enggan untuk menekuinya lagi. 

Hmmm, mulai ngerasa nggak sih, kalau masalah ini sangat relate dengan kondisi hari ini. 

Sebagai ibu milenial yang memiliki anak generasi Z atau alpha pasti ngeh dengan problema dan dilema ini. 

Dulu, saya seperti juga Na Hee-do, agak kurang didukung untuk kegiatan yang non akademik, padahal beberapa hal yang saya sukai dan bisa saya lakukan adalah kegiatan non-akademik tersebut. 

Belajar dari pola sebelumnya, saat ini ketika memiliki anak, saya berusaha untuk mendukung aktivitas anak-anak baik yang akademis maupun non-militer akademis. 

Alhamdulillah, dukungan ini tidak bertepuk sebelah tangan. Meski begitu, saya melihat ada yang hilang dari generasi anak-anak sekarang, yaitu kegigihan. 

Kegigihan seperti Na Hee-do yang kemudian membentuk mindset-nya di masa depan. Bahwa kita tidak selalu harus menang dan mendapatkan semua yang kita inginkan. 

Saya sering merenung, apakah sekarang anak-anak cenderung lebih suka melakukan kegiatan apabila benar-benar terlihat hasil nyatanya, istilahnya bisa cuan. 

Apakah generasi kini, lebih suka yang instan dan lebih fokus pada hasil ketimbang proses? 

Drama twenty five twenty one
Peer parenting remaja 1 : mengajarkan kepada anak tentang pentingnya proses. 



Peer parenting remaja 2
Peer parenting remaja 2 : just be there when they hit the bad times

Peer parenting 3
Peer Parenting remaja 3 : Jalin komunikasi yang baik sejak mereka kecil, hidupkan iklim berdiskusi dan saling curhat di rumah



Jleb nggak sih
Peer Parenting : Sebaik-baiknya orang adalah yang baik terhadap keluarganya. Terutama pada anak-anak. 






No comments

Powered by Blogger.