Dua Sisi Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro

Dua Sisi Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro

Musim liburan sekolah yang lalu, saat perjalanan menuju ke Jogjakarta, kami menyempatkan untuk berkunjung ke Kota Magelang. Ada hal menarik yang membuat kami ingin menjelajahi kota kecil ini, salah satunya untuk melihat tempat bersejarah yang menjadi latar lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro, karya Raden Saleh. Ternyata lukisan penangkapan itu punya dua sisi cerita yang menarik. 

Lokasi Museum Diponegoro 

Rumah atau lokasi tempat penangkapan Pangeran Diponegoro ini masih berada satu komplek dengan Museum BPK RI yang ada di Jalan Pangeran Diponegoro No.1, Magelang, Kec. Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa Tengah 56117. Lokasinya tidak terlalu jauh dari alun-alun Magelang. 

Masuk ke kompleknya lalu berjalan lurus ke arah gerbang tempat dimana Museum Diponegoro berada. 

Entah kenapa meski memiliki nilai sejarah, tempat atau museum ini justru tampak seperti tidak mendapatkan perhatian khusus. 

Kalau ditilik dari bentuk bangunan, rumah ini bentuknya lebih mirip dengan yang di lukisan. 


Sebenarnya, kalau ditilik dari bentuk bangunan yang berada di lukisan milik Raden Saleh, kami menduga justru rumah di bagian depan, dimana pengunjung umum tidak diperbolehkan masuk, adalah rumah yang menjadi latar tempat Pangeran Diponegoro ditangkap. 


Museum Diponegoro Magelang

Bangunan di Museum Diponegoro


Setelah mengintip sedikit ke area dalam, kami lanjutkan menjelajahi area bagian dalam gerbang. 

Di balik gerbang terhampar tanah lapang yang cukup luas, beberapa bangunan tua, meriam, dan sebuah gazebo. 

Penyimpanan Baju Diponegoro

Meriam

Wisata Sejarah Magelang


Menurut beberapa sumber, di area lapangan juga sering ada rusa yang berkeliaran, namun saat kami berkunjung rusa-rusa tersebut tidak tampak. 

Di area dalam bangunan tua, ada ruangan yang menyimpan pakaian yang pernah dikenakan Diponegoro. Tapi kami juga tidak berkunjung ke dalam karena saat itu sepertinya sedang ada kunjungan. 

Kisah Lukisan Diponegoro


Nah, sekarang kita bahas soal lukisan yang dibuat Raden Saleh pada 1857. Lukisan tersebut menggambarkan peristiwa 28 Maret 1830, ketika Belanda menangkap Pangeran Diponegoro.

Peristiwa tersebut ternyata tidak hanya dilukis oleh Raden Saleh saja. Pelukis Belanda Nicolaas Pieneman ternyata lebih dulu melukis penangkapan Pangeran Diponegoro pada 1835.

Dua Sisi Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro

Perbedaan Lukisan Raden Saleh


Dua orang mencatat sejarah dengan cara melukisnya, namun keduanya melukiskannya dari dua sisi yang berbeda. 

Ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa sejarah selalu mempunyai dua sisi. Apa yang dicatat oleh pemenang atau penindas, bisa jadi sangat berbeda jika dicatat oleh pihak yang tidak diuntungkan. 

Pieneman yang orang Belanda, melukiskan peristiwa tertangkapnya Diponegoro sebagai sebuah kemenangan. 

Di lukisan yang dibuat Pieneman, terlihat adanya bendera Belanda, sementara di lukisan yang dibuat oleh Raden Saleh tidak ada bendera Belanda. 

Terdapat juga perbedaan bagaimana kedua pelukis ini menggambarkan karakter Pangeran Diponegoro. Pieneman menggambarkan Pangeran Diponegoro dengan ekspresi lesu dan pasrah, sementara Raden Saleh menggambarkan Diponegoro dengan ekspresi tegas dan amarah yang tertahan. 

Ekspresi Pangeran Diponegoro tersebut menggambarkan rasa marahnya atas pengkhianatan Belanda terhadap dirinya, yang awalnya akan merundingkan akhir dari Perang Jawa pada tahun 1830. 

Pangeran Diponegoro mau datang ke Magelang untuk melakukan perundingan damai dan membahas adanya gencatan senjata, tetapi Belanda justru tidak memenuhi jaminan keselamatannya dan malah menangkap dan mengasingkan dirinya.

Nicoolas Pieneman memberi nama lukisannya 'Penyerahan Diponegoro', karena saat itu mendapatkan tugas dari de Kock yang bertanggung jawab terhadap peristiwa 'penjebakan' tersebut. 

Sementara itu, Raden Salah memberi judul lukisannya 'Penangkapan Diponegoro.' sebagai respon atas lukisan Pieneman, untuk mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro tidaklah menyerah. 

Fakta-fakta tersebut semakin menyadarkan kita bahwa sejarah selalu memiliki dua sisi. Sejak dulu bahkan sudah ada yang namanya 'framing', kalau sekarang, kita melihat model framing dalam konten digital yang sangat mudah diubah-ubah. 

Fakta sejarah lainnya yang juga cukup menarik adalah, Raden Saleh sendiri kemudian menyerahkan lukisan Penangkapan Diponegoro kepada Raja Willem III sebagai tanda terima kasih karena pemerintah Belanda telah membiayai pendidikannya di Eropa selama hampir 20 tahun.

Sejak 1857, lukisan itu berada di bawah kekuasaan Belanda, dipajang di Istana Het Loo, Den Haag. Baru pada tahun 1978, lukisan itu dikembalikan ke Indonesia. Nah, jika teman-teman ingin melihat lukisan tersebut,saat ini dipajang di Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Sementara, lukisan karya Pieneman saat ini berada di Rijksmuseum, Amsterdam. Sebelum bisa melihat langsung kedua lukisan tersebut, yuk jalan-jalan virtual dulu dengan vlog jalan-jalan di Magelang di bawah ini : 


Selamat mengikuti kisah perjalanan lainnya. 







6 comments:

  1. Bener juga mbak baik cerita sejarah atau cerita apapun pasti bisa punya dua atau lebih makna ya tergantung dari sudut mana kita melihatnya

    ReplyDelete
  2. Sejarah selalu memiliki dua sisi, ini juga yang bikin anakku dulu selalu mencari referensi dari berbagai sumber sampai ke perpustakaan di UI Depok. Karena kata anakku sejarah itu bisa dibilang akan selalu berubah ketika ada penemuan yang lebih terkini yang

    ReplyDelete
  3. Dulu kuliah di seni rupa pernah diajarin semiotika seni karya lukis Raden Saleh, eh malah keinget lagi pas mbak Nia bahas di artikel ini. Keren banget deep sekali pembahasannya mbak.

    ReplyDelete
  4. Jadi kangen Magelang udah lama nggak ke ke sana. Senerek selalu jadi andalan memang, kalau aku malam2 biasanya di senerek pinggiran jalan mba.. kebetulan punya mertua temenku, rame pol yang ngemper. Cuma ya itu bukanya malam dan cuman ada menu senerek doang a gorengan. Udah nonton blognya aku mba huhuhu Magelangemang dingin pol aku pernah tidur di pom bensin pas mau liputan pagi jam 7, mau nginep di hotel nanggung tekan Magelang jam 3.

    Makasih Ulasan lukisann dan tempat pangeran Diponegoro ditangkap mbaaa jadi pengen kesana
    Aku sampe namatin lukisannya memang dua sisi yang berbeda.

    ReplyDelete
  5. Iya, seseorang bisa jadi pahlawan atau penjahat tergantung siapa yang memegang kekuasaan saat itu ya begitu yanfpernah kubaca, aku baru tahu ada museum ini lho di Magelang bermanfaat banget untuk anak-anak kunjungi

    ReplyDelete
  6. Berkali-kali lewat Magelang tapi blm sekalipun ke museum ini. Kalau ke makam diponegoro malah aku dah pernah.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.