TUNAS Dorong Digital Well-Being : Cegah Otak Anak Alami Popcorn Brain
Momen Lebaran sekaligus liburan seharusnya jadi momen dimana anak-anak dapat menghabiskan waktu bersama orang tuanya. Sayangnya, momen ini sering dicuri oleh keberadaan gadget. Di saat orang tua sibuk menyiapkan open house, di tengah riuhnya aktivitas di dapur karena mempersiapkan hidangan Lebaran, tidak jarang orang tua membiarkan anak bahkan pada balitanya memainkan gadget. Alasannya, agar anak-anak lebih tenang atau anteng.
Tanpa orang tua sadari, yang dikiranya anak-anak jadi lebih anteng dan fokus, sebenarnya ada bahaya yang sedang mengincar otak mereka. Saat si kecil begitu serius dengan perangkat digitalnya, seperti ponsel atau tablet sebenarnya ia sedang tidak benar-benar fokus atau berkonsentrasi, melainkan sedang 'dikendalikan'. Di momen ini, anak-anak bisa mengalami apa yang disebut popcorn brain.
Apa itu “popcorn brain” ? Menurut psikiater dan praktisi pendidikan anak di Korea Selatan, Yee-Jin Shin , "popcorn brain" adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kondisi otak anak yang terbiasa dengan layar perangkat digital yang senantiasa merespons stimulus kuat hingga otak meletup-letup.
Ketika seorang anak terbiasa melakukan banyak hal secara bersamaan di perangkat digitalnya, maka struktur otak anak jadi memiliki kecenderungan tidak bisa beradaptasi dengan dunia nyata. Hal ini terjadi dikarenakan otak sosialnya tidak berkembang optimal. Akibat lanjutan penggunaan perangkat digitalnya secara berlebihan, membuat orientasi otak mulai kebal terhadap stimulus yang diberikan dan menjadikan individu tidak adaptif terhadap sekelilingnya.
Yee-Jin Shin menegaskan "Otak yang dalam keadaan meletup-letup atau popcorn brain akan membuat anak selalu mencari hal-hal yang semakin lama semakin brutal, impusif, cepat, dan menarik buat dirinya sendiri".
Jika anak telanjur terpapar stimulasi yang sangat kuat itu, maka dia akan merespons datar bila diajak bermain ke alam terbuka. Anak akan cepat merasa bosan ketika bermain di ruang terbuka dan terlepas dari gadgetnya, tidak jarang anak akan mengamuk dan merengek ketika dijauhkan dari gadgetnya.
Selanjutnya anak yang mengalami popcorn brain akan mengalami penurunan daya konsentrasi karena otaknya cenderung menyeleksi stimulus atau perangsangan yang kuat dan diinginkan dirinya. Pada akhirnya kondisi ini akan melemahkan daya ingat anak.
Dampak yang lebih serius lagi adalah tidak berkembangnya otak sosial anak dan juga tidak berkembangnya kemampuan mengendalikan emosi. Kepekaan anak akan melemah karena ambang batasnya selalu menginginkan stimulasi yang kuat. Jika tidak mendapatkan stimulus yang kuat maka anak akan merasa jenuh dan kesal.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut adalah, ketertarikan anak terhadap tulisan hitam-putih seperti pada buku-buku bacaan cetak akan berkurang. Anak-anak jadi kesulitan untuk mencerna isi buku, malas membaca, dan tidak tertarik pada tulisan panjang.
Di tahap ini, anak-anak yang seharusnya bisa membangun perustakaan otak yang pennuh dengan informasi bermakna justru akan mengumpulkan informasi remahan secara masif, sehingga terjadilah banjir informasi yang tak terpakai.
Menyikapi kondisi di atas, saat ini pemerintah telah meluncurkan kebijakan TUNAS, yaitu kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang resmi berlaku bertahap mulai 28 Maret 2026 untuk melindungi anak di ruang digital. Kebijakan ini membatasi akses media sosial dan game online bagi pengguna di bawah 16 tahun melalui verifikasi usia ketat dan mewajibkan persetujuan orang tua.
Tujuan utamanya adalah menciptakan ekosistem digital yang aman, sehat, dan produktif bagi anak-anak Indonesia.
Saat ini, di Indonesia, penanganan terhadap anak yang kecanduan smartphone telah dilakukan oleh sejumlah Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Data yang didapat dari rumah sakit jiwa tersebut cukup membuat miris.
RSJ Cisarua, Jawa Barat tahun 2018 yang lalu dalam sebulan menangani hingga 12 anak-anak yang kecanduan ponsel. RSJ Daerah Surakarta, Jawa Tengah hingga pertengahan tahun 2019 telah merawat 35 anak dan remaja yang kecanduan ponsel .
Para anak dan remaja yang mengalami kecanduan ponsel akan terganggu waktu belajarnya. Sudah seharusnya orang tua dan pemerintah sama-sama bekerjasama untuk mulai membatasi akses digital dalam kehidupan anak dan remaja kalangan Gen Z dan Gen Alpha ini.
Untuk mencegah popcorn brain orang tua perlu menunda pengenalan smartphone kepada anak-anak. Orang tua dan sekolah perlu mempersiapkan mental anak-anak agar lebih matang sebelum mengenal smartphone.
Di belahan negara lain, jajaran petinggi perusahaan teknologi atau komputer seperti Google, Apple, Yahoo, HP dan eBay menyekolahkan anak-anak mereka di Waldorf School of Peninsula. Sekolah ini dikenal tidak menyediakan komputer bagi murid-muridnya. Meskipun demikian, Waldorf School tingkat SMA tersebut memiliki 94% lulusan yang diterima di kampus-kampus besar di Oberlin, Berkeley dan Vassar.
Jika para orang tua masih bimbang untuk tidak mengenalkan perangkat digital sejak dini kepada anak-anak mereka, simak apa yang pernah dikatakan Alan Page, salah satu eksekutif Google “Komputer itu sangat mudah. Google sengaja membuat perangkat yang ibaratnya dapat digunakan tanpa perlu berpikir keras. Anak-anak tetap dapat belajar komputer sendirian bila mereka beranjak dewasa nanti.”
Dengan adanya PP TUNAS (Tunggu Anak Siap) yang merupakan kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI-khususnya PP No. 17 tahun 2025 dan turunan Permen No. 9 Tahun 2026 sebenarnya anak-anak di bawah 16 tahun dapat dilindungi dari risiko ruang digital, bukan hanya ancaman popcorn brain, tetapi juga mengurangi paparan terhadap konten negatif, kekerasan, pornografi, dan cyberbullying.
Tunggu Anak Siap (TUNAS) juga suatu langkah untuk membatasi anak-anak agar tidak terkena risiko adiksi game online/medsos, meningkatkan kualitas tidur, dan mengurangi kecemasan serta depresi, mencegah profiling data pribadi anak untuk tujuan komersial oleh platform, mendorong penggunaan internet yang lebih bijak, aman, dan mendidik, serta mendorong anak menjadi kreator, bukan hanya konsumen konten.





No comments