Masihkah Kamu Mencintai Indonesia?

Masihkah kamu mencintai Indonesia

Masihkah kamu mencintai Indonesia?
Kulihat ibu pertiwi. Sedang bersusah hati. Air matanya berlinang. Emas intannya terkenang. Pernah dengar lantunan lagu ini?
Gimana perasaan kalian saat mendengarnya?

Masa pandemi ini sedikit banyak menyingkap 'true face' semua orang. Dari mulai pejabat hingga rakyat kecil.

Seperti halnya di saat yang gelaplah, kita benar-benar baru bisa melihat sinar wajah seseorang. Pandemi juga menyingkap wajah Indonesia yang sesungguhnya. 

Kita bisa mengamati reaksi sosial masyarakat ketika berhadapan dengan krisis : ada yang marah kepada pemerintah karena dianggap lamban membuat eksekusi penanganan bencana. Ada yang banding-bandingin sama negara lain. Ada yang memilih untuk bertindak sendiri, di lingkaran terkecil.

Kalau mau dipetakan akan cukup banyak aksi dan reaksi yang ada. Kalau kita melihatnya di media sosial, cerminannya seperti bayangan di cermin retak. Ada juga yang terpolarisasi.

Negativitas juga makin marak, kita melihat orang-orang oportunis memanfaatkan keadaan : menjual masker dengan harga membumbung. Menimbun hand sanitizer, atau malah masih ada yang mengekspor APD.

Kita makin sadar, secinta-cintanya pada negara, banyak yang lebih memikirkan perut dan kehangatannya sendiri. Egoisnya manusia membuat beberapa dari kita mulai menarik diri. Masuk ke lingkaran terkecil dan mengevaluasi kembali relasi-relasi.

Bisnis kolaps. Beberapa terpaksa memutuskan jejaring yang selama ini sudah menggurita. Keputusan-keputusan menjadi sensitif, tetapi tetap harus diambil meski tak bisa menyenangkan semua pihak.

Ratusan orang memulai kembali dari tangga paling bawah, beberapa mungkin masih belum tersadar mereka sedang berada di dasar jurang yang gelap.

Sebagian lagi merasa hidup di tengah pandemi ini seperti memyusuri terowongan gelap yang belum terlihat kapan ujungnya.

Tapi di antara semua itu, ada satu pertanyaan di dalam hati, masihkah kita mencintai NKRI. Masihkah kita mengingat alasan-alasan kenapa kita begitu bangga dengan Indonesia.

Orang-orang yang ramah, suka bergotong royong kekeluargaan. Salah satu ciri khas masyarakat Indonesia. 


Mengapa pagi pertama di awal Agustus kita masih mengibarkan Sang Merah Putih dan menatap kibarannya mewarnai langit?

Kulihat ibu pertiwi. Sedang bersusah hati. Air matanya berlinang. Emas intannya terkenang. 


Hutan, gunung, sawah, lautan Simpanan kekayaan Kini ibu sedang lara Merintih dan berdoa 

Ada beberapa keyakinan yang membuat saya tetap merasa bersemangat dan memiliki harapan. Semoga beberapa alasan ini juga bisa membantu kalian yang mulai pesimis dengan keadaan.

Khasanah kuliner lokal yang begitu kaya dan dapat dibanggakan hingga ke kancah internasional, salah satu kelebihan lain yang dimiliki Bangsa Indonesia dan harus diapresiasi. 

Budaya dan seninya yang kaya, diturunkan dari masa ke masa. 

Hasil pangan lokal yang berlimpah. Gizi untuk anak negeri. 


Saya yakin, kita adalah bangsa yang kuat dan hebat. Karakter mental kita yang sesungguhnya adalah pejuang dan pelaut. Seorang pelaut menjadi handal karena mengarungi lautan berbadai.

Teman-teman boleh memilih memercayai apa yang dicerminkan di media sosial bahwa kita bangsa tempe yang melempem.

Tapi pilihan untuk memercayai yang mana, itu yang juga akan menentukan siapa diri kamu yang sebenarnya. 

Saya memilih untuk percaya bahwa kita adalah pejuang dan pelaut yang handal.

Seperti juga halnya ketika Pak Kafi Kurnia, founder Sembutopia, pernah berbagi sebuah sudut pandang yang mencerahkan tentang sejarah bangsa ini.




Dan saya memilih untuk tetap dan terus menghidupkan semangat yang pernah beliau tumbuhkan beberapa tahun lalu.

Kenyataannya,

Ketika saya mulai berpikir bahwa saya berada di lingkaran orang-orang yang tidak membangun dan merugikan, maka saya pun akan dipertemukan dengan orang-orang tersebut.

Sebaliknya, saat saya berpikiran terbuka dan mulai berpikir untuk kembali bersinergi untuk pertumbuhan, orang-orang yang mendukung pun hadir.

Jadi, semua tentang menata mindset.

Jangan biarkan keadaan mengalahkan mindset kita.

Karena terkadang sekuat apapun besi, dia akan rusak oleh karatnya sendiri. Jadi, jagalah semangat dan pikiran agar tidak berkarat.

Begitulah cara kita terus memupuk kecintaan kepada Indonesia. Rawat mindset positif tentang Indonesia, tabur, tumbuhkan, dan tuai hasilnya.

Merawat mindset positif tentang Indonesia, seperti peperangan Hanoman melawan Rahwana. Hal negatif dan pikiran buruk akan tetap ada, tetapi kita tetap harus yakin dengan kelebihan dan hal-hal positif yang dimiliki Indonesia.


Lihat keluar, pada orang-orang yang tetap bersemangat di jalan kebaikan. Pada orang-orang yang terus menyuarakan kebanggaanya pada alam Indonesia, keragaman budayanya, tepa salira, dan semangat gotong royongnya.

Kita hanya harus terus berjalan dan menoleh ke sisi yang tepat agar bisa sampai dengan selamat di ujung terowongan yang gelap.

Yang kita kira dinding pekat di sisi kiri, mungkin saja sebuah jendela muncul ketika menoleh ke kanan, sehingga kita menikmati perjalanan ini dengan pemandangan indah yang kita ciptakan.

Jaga mindset positif, dan orang-orang yang tepat akan hadir membersamai kita.



Terima kasih, kamu, kamu, kamu, dan kamu yang sudah memercikkan kembali api semangat untuk mencintai Indonesia.

Ibu, kami tetap cinta Putramu yang setia Menjaga harta pusaka Untuk nusa dan bangsa.

Dirgahayu Indonesia yang ke-75.

No comments

Powered by Blogger.