Buku untuk Ortu yang Mendampingi Anak Belajar di Rumah

Buku untuk Ortu yang Mendampingi Anak Belajar di Rumah

Pernah punya cita-cita idealis meng-homeschooling-kan Si Sulung dan anak kedua karena ingin menciptakan lingkungan belajar yang ideal untuk anak-anak. Kemudian sadar kalau harapan itu utopis dan terbentur juga dengan kenyataan. Sadar bahwa tidak pernah ada lingkungan yang benar-benar ideal, kalau pun mau, orangtua sebagai pendidik atau pengajar yang harus berupaya menciptakannya. Kemudian, saya mencoba membaca beberapa buku, yang mungkin bisa teman-teman baca juga, sebagai bekal mendampingi anak belajar di rumah. Belajar di rumah ya, bukan homeschooling

Teach Like Findland oleh Timothy D. Walker.


1. Buku pertama, pemberian seorang teman blogger yang sempat bermukim di Semarang kemudian pindah ke Padang. Buku ini sebagai hadiah perpisahan. Teach Like Findland oleh Timothy D. Walker. 

Dari judul bukunya, yang membuat saya tertarik adalah tentang Finlandia dan ibukotanya, yaitu Helsinki, kota dengan indeks kebahagiaan tertinggi di dunia, kota yang katanya cocok buat manusia-manusia kreatif. 

Finlandia juga dikenal sebagai negara terbaik dalam bidang pendidikan. Terbukti atas prestasi para murid yang masih usia 15 tahun berhasil mencatatkan skor tertinggi di penyelenggaraan pertama PISA (Programmer For International Student Assestment)

Oke, kapan-kapan kita bahas kisah perjalanan di Helsinki yah, hehehe. 

Kembali ke bukunya. 

Buku ini membahas mengenai 33 strategi sederhana bagaimana agar aktivitas pembelajaran di kelas terasa menyenangkan.

Menurut buku ini, salah satu hal terpenting dalam pendidikan adalah bagaimana pengajar maupun siswa dapat merasakan kebahagiaan ketika belajar dan mengajar. 

Buat Buibu yang sudah merasakan bagaimana mendampingi anak-anaknya belajar selama masa sekolah daring ini pasti taulah ya, bagaimana tekanan membersamai anak belajar dari rumah justru sering membuat ortu maupun anak stres. 

Menurut buku tersebut, kebahagiaan yang di maksud adalah terpenuhinya kebutuhan pokok, misalnya waktu tidur yang cukup, tersedianya tempat bernaung, pakaian yang nyaman, dll. 

Hal-hal tersebut yang kemudian akan memberikan dampak terhadap kesehatan fisik, emosi, dan mental baik guru dan siswa. 

Lalu apa kiat untuk meningkatkan wellness bagi para pengajar dan siswa menurut buku ini : 

1. Jadwalkan Istirahat Otak untuk Siswa

2. Belajar Sambil Bergerak

3. Recharge Sepulang Sekolah

4. Meyederhanakan Ruang

5. Menghirup Udara Segar

6. Masuk ke Alam Liar

Kemudian, saya mencoba menerapkan beberapa hal tersebut ketika membersamai anak belajar di rumah, dan hasilnya memang anak-anak lebih bahagia ketika belajar. Nah, tapi kita mesti sama-sama menyamakan persepsi tentang belajar dulu nih. 

Ada sebagian ortu yang menganggap belajar itu selalu tentang ilmu akademis dan teoritis, tapi dalam perspektif anak, belajar tidak selalu seserius itu. 

Hanya karena para guru dapat merasakan tujuan pembelajaran yang kuat di dalam kelas, namun tidak dengan para siswa mereka. Anak-anak, yang saya temukan, selalu memerlukan bantuan kita untuk melihat apa hubungan antara pekerjaan rumah mereka dengan “dunia nyata” (Halaman 117) 

Tulisan di buku tersebut cukup relate dengan sebuah kejadian yang dialami anak-anak saya di rumah, mereka cukup sering menanyakan mengapa harus belajar A dan B, apa kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. 

 2. Buku kedua yang saya baca adalah : Montessori :Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja yang ditulis oleh Vidya Dwina Paramita, seorang Montessorian dan Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini. 

Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja


Dalam bukunya, Montessori : Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja, Vidya menyebut bahwa yang terpenting dalam tahapan membaca adalah memastikan anak langsung dapat mengorelasikan rangkaian huruf yang dibaca atau dibunyikan dengan makna yang telah ia kenal dan ia pahami. (Halaman: 63) 

Nah, metode ini ternyata cocok saya terapkan untuk Tazka, anak kedua saya yang dari hasil tes sidik jarinya merupakan anak feeling, soal ini nanti bakal saya bahas khusus di blog parenting, yap. 

Jujur mengajarkan proses belajar membaca untuk anak kedua ini nggak semudah saat mendampingi anak pertama, Bund. Makanya ketika menemukan buku ini, saya tertarik untuk membacanya. 

Secara keseluruhan, isi buku ini cukup membantu saya ketika harus mendampingi proses belajar membaca anak kedua. Ada beberapa kiat dalam buku ini yang saya coba terapkan, antara lain : 

1. Membacakan cerita sangat membantu membangun minat anak untuk belajar membaca. 

2. Belajar menulis lebih dulu membantu anak untuk belajar membaca dengan lebih baik. 

3. Latih anak dengan mengenalkan banyak bunyi huruf dalam keseharian. 

Oke Bund, kita bahas dua buku dulu ya, nanti kalau daftar bacaan saya khusus mendampingi anak belajar di rumah sudah bertambah lagi, nanti kita update artikelnya. 

No comments

Powered by Blogger.