Parents as Coach

Parents as coach

Keluarga adalah yang paling berhak mendapatkan kebaikan diri kita sebelum yang lain.
 Atas dasar itulah, meski secara keseluruhan saya sangat jarang menangani coaching untuk remaja, sejak dua tahun belakangan ini saya berusaha memosisikan diri sebagai coach untuk anak-anak, terutama si sulung yang berusia 15 tahun. Parents as Coach : Menjadi Coach untuk anak remaja menjadi tantangan tersendiri.

Dari Aisyah, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : 

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik pada keluargaku.”(HR. At-Tirmidzi dari Aisyah radhiyallahu’anha, Ash-Shahihah: 285) 

Ketika mau menilai apakah seseorang itu baik atau tidak maka salah satunya lihatlah hubungannya dengan keluarganya.

Kalimat ini adalah salah satu nasehat yang pernah saya dapatkan dari seorang guru. Sepengalaman saya, nasehat itu benar adanya, sebab seseorang lebih mudah bersikap ramah, pemurah, dan penolong kepada orang lain, tetapi belum tentu demikian ketika ia di rumah berhadapan dengan keluarganya. 

Keluarga atau rumah seringkali menjadi tempat seseorang melepas topeng atau persona yang dikenakannya selama di luar rumah. Ketika kita bisa beramah-ramah terhadap orang lan, namun dengan mudah bermuka masam pada anak-anak atau keluarga di rumah maka bisa jadi sesungguhnya kita yang sejati adalah kita yang di rumah, yang sedang melepaskan topengnya.

Hadits di atas juga menjadi patokan untuk menilai akhlak seseorang, dan juga berisi anjuran agar utamanya sebagai pribadi kita bisa lebih dahulu memberikan manfaat kepada keluarga, baik manfaat agama maupun duniawi. 

Sebab keluarga adalah pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan maka sudah seharusnya seseorang bagi keluarganya adalah sebagai : sebaik-baiknya teman, sebaik-baiknya orang yang mencintai, dan sebaik-baiknya pendidik. 

Ada sebuah urgensi, jika tidak ingin menyebutnya sebagai sebuah ketakutan, dimana saya takut kelak ketika semakin menua, dan anak-anak makin dewasa lalu kami duduk bersebelahan, kami kesulitan untuk mengobrol dan berbicara satu sama lain. 

Tidak tahu mau menanyakan apa, takut jatuhnya basa-basi saja, atau malah men-judge yang berujung anak makin tidak mau ngobrol dan segan berbincang dengan orangtuanya. 

Urgensi itulah yang memaksa saya melatih diri, bahkan sejak anak-anak masih kecil untuk memosisikan diri sebagai teman. 

Meski sudah berlatih tahunan, saya merasa belum berhasil menjadi sebaik-baiknya teman untuk mereka. Kadang masih ada pertanyaan basa-basi, pertanyaan tertutup, dan obrolan yang mandek dengan jawaban, 'nggak tahu' sambil angkat bahu dari anak-anak. 

Tapi saya nggak mau menyerah. Pun ketika si sulung mulai memasuki usia pre-teens dan rasanya seperti mulai ada satu-dua buah bata yang dibangunnya. Batu bata itu adalah gadget. 

Saya bertekad untuk terus meruntuhkan bata tersebut. Saya tidak ingin gadget menjadi sahabat karibnya. 

Kemudian ketika memasuki SMP di saat pandemi menjadi semacam blessing in disguise buat saya dan suami karena kami akhirnya dapat menjadi ‘peer support’ utama anak-anak, terutama si sulung. 

Salah satu pertanyaan yang saya ajukan pertama kali untuk menjadi pintu pembuka agar saya bisa menjadi Coach, dan anak saya menjadi Coachee adalah, “Kak, hal apa yang paling kamu anggap penting saat ini?” saat itu usianya 14 tahun.

Dan  dari pertanyaan itu, perbincangan pun terus mengalir, berlanjut dengan action plan demi action plan yang kami eksekusi bersama : Survey sekolah, wawancara (ngobrol) dan bertemu orang-orang yang akan menjadi mentor bagi Si Sulung, dan seterusnya hingga puncaknya adalah pemilihan akan melanjutkan sekolah di SMA/SMK mana? 

Cerita pemilihan sekolah akan kami rangkum di cerita PPDB 2023 di postingan setelah ini. 

Sebelum itu, saya ingin menyisipkan beberapa dokumentasi foto dan video perjalanan ketika kami mewujudukan beberapa action plan selama tiga tahun terakhir.

1. Vlog : Melatih kepekaan dan kepedulian anak terhadapan lingkungan, alam, keberlanjutan dan ketahanan pangan. Merupakan sebuah rangkaian kegiatan bertajuk Food Series bersama Sekolah Alam Ar-Ridho.


2. Survey Sekolah : 

Survei Sekolah


Perjalanan masih panjang, mungkin ini adalah klien atau coachee saya sepanjang masa. 

Karena ya, seringkali saya merenung bahwa yang utama saya tidak akan ditanya olehNya soal bagaimana saya mendampingi klien dan permasalahannya, tetapi saya akan ditanyai olehNya mengenai anak-anak saya. 

This is a lifetime job. Everlasting project. 

No comments

Powered by Blogger.