Petikan Sape di Sekolah Adat Arus Kualan, Menjaga Harmoni Bumi Tetap Lestari.

Petikan Sape di Sekolah Adat Arus Kualan


Suara petikan Sape yang ritmik memantik rasa tenang dari seorang pasien yang sedang diobati oleh Elis, tabib cilik berusia 14 tahun yang merupakan salah satu murid dari Sekolah Adat Arus Kualan. 

Sape merupakan alat musik tradisional Kalimantan Timur sering digunakan untuk mengiringi acara-acara hajatan masyarakat Suku Dayak. Alat musik tradisional khas Kalimantan ini memiliki bentuk mirip dengan gitar yang memiliki dawai dan dimainkan dengan cara dipetik. Badan Sape terbuat dari kayu Adau, yang banyak terdapat di Kalimantan, yang diberi corak ukiran khas Suku Dayak. 

Alunan yang keluar dari alat musik ini sangat indah. Sape biasa dimainkan untuk mengiringi berbagai tarian khas Dayak pada perayaan-perayaan kesenian yang penuh dengan kegembiraan. Tidak hanya itu, konon dulunya alat musik ini juga digunakan untuk mengiringi proses pengobatan seseorang yang terserang penyakit. 

Banyak kearifan lokal dan ilmu-ilmu masyarakat asli Dayak yang tergerus arus informasi dan globalisasi. Bahkan bisa jadi masyarakat aslinya tidak lagi paham bagaimana memainkan Sape dan apa khasiat dari mendengarkan musik bernada pentatoniknya. 

Maka Sekolah Adat Arus Kualan hadir untuk menjadi penyeimbang dan rem bagi laju zaman yang terkadang justru menggilas budaya dan adat istiadat masyarakat setempat. 




Adalah F. Deliana Winki dan Plorentina Dessy Elma Thyana yang berdarah Dayak tulen, dua orang yang menyadari bahwa harus ada yang dilakukan agar anak-anak muda Dayak tidak kehilangan karakter, identitas suku dan adat-istiadatnya, serta ilmu-ilmu warisa leluhur.

Tentu saja, bagaimana jika ilmu dari leluhur dan sesepuh mereka yang kemudian hilang tak lagi terwariskan dari lisan maupun tulisan karena anak-anak mudanya lebih tertarik pada ilmu atau budaya asing?

Keduanya kemudian sepakat untuk mendirikan Sekolah Adat Arus Kualan pada tahun 2014. Sekolah informal ini berlokasi di Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang di Kalimantan Barat. Sekolah yang kini berusia 11 tahun dan memiliki 350 anak sejak awal dibangun. Saat ini, ada sekitar 168 anak yang belajar bersama di sekolah non formal ini.

Sekolah Adat Arus Kualan adalah wadah untuk anak-anak muda Suku Dayak untuk mempelajari berbagai pengetahuan adat, lingkungan dan budaya yang diturunkan oleh leluhur mereka. Sekolah yang berlangsung setiap hari Jumat hingga Minggu ini diikuti dengan antusias oleh anak-anak berbagai usia. 

Bagi para pengajar seperti Deli dan murid-muridnya, semua adalah guru sekaligus murid. Sementara hutan dan alam raya adalah ruang kelas mereka. Di sekolah ini, semua orang sama derajatnya. Tak ada yang lebih tinggi, meski posisinya guru sekalipun. 





Di Sekolah Adat Arus Kualan, anak-anak Dayak belajar banyak hal tentang adat-istiadat dan budayanya. Mereka belajar pengetahuan tradisional dan kearifan lokal yang diturunkan masyarakat Dayak dari generasi ke generasi.

Sesuatu yang mungkin akan hilang ditelan zaman, seperti mengobati seseorang sambil memperdengarkan alunan petikan Sape adalah misi yang ingin ditumbuh-kembang, dan jaga oleh Sekolah Arus Kualan ini.

Hingga kelak harapannya akan lahir, Elis lainnya, yang bukan hanya bercita-cita menjadi tabib dengan memanfaatkan aneka tetumbuhan yang hanya ada di hutan Kalimantan, tetapi, bisa jadi lahir koki kelas mancanegara yang merupakan alumni sekolah ini. 

Koki-koki cilik yang terus menjelajah alam raya, menemukan sumber pangan baru dan mempertahankan yang lama untuk terus menghidupi budaya makan ramah lingkungan masyarakat mereka. 





Apa yang diajarkan Sekolah Adat Arus Kualan adalah pengetahuan praktis yang bermanfaat untuk menjalankan kehidupan mereka sehari-hari dan selaras dengan alam. Pelajaran mereka diantaranya adalah memahami tentang tanaman obat tradisional yang tumbuh di belantara hutan mereka sendiri yang kaya, memasak dengan bahan dasar bambu, memainkan permainan tradisional hingga belajar tentang berbagai tanaman pangan yang tersedia di hutan. 

Tak hanya itu, murid-murid juga dikenalkan kepada para sesepuh di kampung mereka untuk mendengar kisah-kisah dan belajar banyak hal dari mereka para pemegang dan pemangku local wisdom. Tradisi belajar dari pesan lisan para sesepuh kembali dihidupkan. Mereka belajar mendengar dan mencatat apa yang para leluhur harapkan untuk keseimbangan dan keberlangsungan hutan.





Para pengajar di sekolah ini membantu murid-muridnya untuk tetap memegang identitas yang kuat pada anak muda Dayak dan bagaimana mereka hidup sebagai orang Dayak di era modern. 

Bagaimana agar anak-anak muda Dayak lebih memilih untuk menghidupi dirinya dari hutan tetapi tetap bertahan hidup selaras dan tidak terbawa arus globalisasi. Tentunya agar tidak meninggalkan identitas aslinya yang kuat, mereka pun diajarkan untuk tetap beradaptasi dengan perubahan yang ada. 

Sekolah ini ikut berperan dalam melestarikan budaya leluhur, tak hanya dengan mengajarkannya kepada para siswa bagaimana mempertahankan local wisdom-nya, tetapi juga mendokumentasikan berbagai pengetahuan yang biasanya dituturkan oleh leluhur, dibuat dalam bentuk tulisan, penelitian dan film dokumenter. Kemudian mereka mendokumentasikannya melalui teknologi digital dan membagikannya di media sosial. 

Ketekunan dan konsistensi para pengajar, membuat anak-anak murid di sekolah yang kini memiliki empat cabang itu semakin percaya diri dengan identitas mereka sebagai orang Dayak. 

Tujuannya adalah menghapuskan rasa rendah diri atau perasaan menjadi suku yang terpinggirkan. 

Mereka diajak untuk terus membangun karakter yang kuat, seperti kayu Ulin, kayu besi yang menjadi penopang berbagai kontruksi, berkarakter penuh manfaat seperti Meranti yang dibuat untuk berbagai furnitur, dan memiliki local wisdom seperti Halaban yang kulitnya bisa dijadikan obat. 



Para pengajar mendorong murid-muridnya untuk memegang teguh bahwa hutan adalah identitas diri muridnya, mencintai hutan berarti mencintai identitas diri mereka sebagai suku Dayak. 

Hutan adalah rumah, maka rusaknya berarti rusak pula rumah mereka, dengan ini mereka dapat menjadi garda terdepan apabila tangan-tangan asing berupaya merenggut hutan mereka. 

Kekuatan karakter para anak didik ini jugalah yang membuat mereka berani mengungkapkan pendapatnya dengan berbicara di depan umum. Mereka berani mempresentasikan dan memperkenalkan kebudayaan dan adat-istiadat Dayak di berbagai kegiatan dengan penyaksi yang lebih beragam bahkan dari berbagai lintas benua.

Untuk memiliki keberanian tersebut anak-anak ini tentu harus dibekali dengan kemampuan membaca, menulis, bahasa asing, berhitung, bahkan komputer. 

Kepiawaian murid-murid dari Sekolah Arus Kualan juga telah menarik mata banyak pihak, salah satunya panitia Konferensi Biodiversitas Dunia di Kolombia November tahun 2024. 

F. Deliana Winki kemudian diundang untuk mewakili Indonesia ke kancah internasional untuk menyampaikan pendapatnya tentang perubahan iklim dan keanekaragaman hayati di Indonesia. Deli berangkat ke Kolombia bersama lima anak muda hebat lainnya. 

Mata lain yang juga memandang dengan hati yang tulus adalah  PT. Astra International, Tbk. Tahun 2023, Sekolah Adat Arus Kualan meraih Satu Indonesia Awards Kategori Kelompok All Bidang. 

Sekolah ini menjadi inspirasi untuk mendirikan sekolah yang tak hanya mementingkan bidang akademik saja tapi juga mengenalkan pendidikan karakter dan rasa cinta pada Tuhan, alam dan lingkungan sekitar mereka.

Tentu perjalanan kedua pendiri dalam membersamai sekolah ini belumlah usai dan akan berhenti dengan adanya penghargaan, justru penghargaan tersebut menjadi langkah awal memantapkan strategi agar sekolah ini berumur panjang. 

Di tengah gempuran isu ketahanan pangan, kondisi iklim dunia yang mengalami krisis, kita berharap terus lahir murid-murid pemberani yang terus menjadi pejaga hutan pangan tetap lestari, bumi yang tetap mengalun selaras, seperti harmoni petikan Sape yang menjaga ritmik keseimbangan alam dunia. 

No comments

Powered by Blogger.