Writer's Block Symptom

Writer's Block Symptom


We want the writing to be perfect
and we want the damned thing
done as soon as possible.
We know what we know
but we don't know
what our readers know.



We know how the memo should sound,
but we don't have all the facts we need.
We know everything about the software,
but we don't know what an article should look like.

We know what we have to say
but we are afraid that it won't measure up
to our expectations
or to our readers' expectations.

Merasakan gejala itu beberapa hari ini, lalu mulai mengevaluasi beberapa strategi salah yang awalnya dikira bisa mengurangi gejala tersebut, nyatanya...bukannya membaik malah tambah parah.

Ternyata :
  1. Berusaha membuat tulisan yang sempurna, membuat kita jadi malas menulis. Kita berharap semua ide akan datang sekaligus, berharap semua kalimat bagus terkumpul di kepala, agar bisa dituangkan bersama-sama hingga menjadi draft yang sempurna dan itu membuat kita selangkah lebih dekat dengan yang namanya mandek.

  2. Buka Thesaurus atau kamus untuk mencari kata-kata baru dan berharap itu akan berkembang menjadi sebuah kalimat, itu memakan waktu dan ternyata sangat tidak efektif.

  3. Berkata : 'O iya, nanti aku akan menuliskan ini pada adegan yang ini' atau 'Kalimatnya nanti gini, deh'.....yang benar : Langsung tuliskan saja. Masalahnya, Short Term memory kita terbatas...bisa-bisa setelah mandi dan gosok gigi lalu makan dan akan mulai menulis kembali apa yang tadi ingin ditulis sudah menguap. 'Ah, tadi mau nulis apa, yaa...kalimatnya gimana, ya.'

No comments

Powered by Blogger.