ChatGPT Akankah Jadi Ancaman Bagi Pekerja Creative Writing Seperti Copywriter dan Penulis?

ChatGPT Akankah Jadi Ancaman Bagi Pekerja Creative Writing Seperti Copywriter dan Penulis?

Beberapa pekan lalu di akhir Desember sehabis saya mengisi pelatihan copywriting untuk HPN Kota Semarang, saya mengobrol dengan seorang kawan yang kemudian berkomentar, wah, kerjaanmu bakal digantikan robot AI (Artificial Intelligence) tuh. Sebenarnya setelah kehebohan AI yang bisa memberikan gambaran visual hanya dengan perintah teks deskriptif itu, saya mulai cari-cari tahu tentang ChatGPT ini. Tapi apa benar sih, pekerjaan seorang copywriter atau penulis bakal benar-benar bisa digantikan oleh ChatGPT ini? 

Tidak dipungkiri kalau perkembangan teknologi bakal menggeser jenis-jenis pekerjaan tertentu dengan alasan efisiensi. Tapi apakah pekerjaan yang terkait dengan bidang kepenulisan seperti copywriter akan terdampak juga? 

Sebenarnya, apa sih ChatGPT itu? 

ChatGPT adalah singkatan dari generative pre-training yang diluncurkan pada November 2022 sebagai produk baru dari salah satu perusahaan teknologi bernama OpenAI. 

OpenAI sendiri adalah perusahaan yang fokus pada pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau kerap disebut Artificial Intelligence (AI) dan bersifat terbuka untuk publik (open source).

ChatGPT ini adalah program chatbot yang mampu menjawab semua pertanyaan manusia dengan kualitas respons seperti sedang mendengarkan manusia asli berbicara. 

Bisa dibilang ChatGPT ini bakal menggantikan peran Google. Sebab, ChatGPT dapat memberikan informasi ke pengguna terkait hal apa saja. Bedanya dengan Google hanya berfungsi untuk menghimpun laman-laman yang mampu memberikan referensi untuk kata kunci yang kita cari. Sementara ChatGPT bisa memberikan jawaban yang komprehensif dan mudah dipahami. 

Contohnya seperti ini : 

ChatGPT untuk Menulis Esai Akademis


Menariknya lagi, ChatGPT juga bisa membuat berbagai bentuk tulisan baik formal maupun informal, dari mulai esai akademis, lirik lagu, puisi, bahkan jika kita ingin membuat cerita pengantar tidur untuk anak-anak dengan tema tertentu, ChatGPT bisa melakukannya. 

Tetapi apakah dengan kemampuannya ini ChatGPT juga akan bisa menyamai kedinamisan kecerdasan manusia? 

Jenis pekerjaan apa saja yang terancam bakal tergantikan oleh ChatGPT? 

Untuk bisa menjawab pertanyaan ini kita perlu paham dulu bagaimana ChatGPT bekerja. ChatGPT adalah model bahasa yang dikembangkan oleh OpenAI untuk memahami bagaimana manusia berbicara dan menulis. Caranya dilatih dengan data sejumlah besar teks dari internet, sehingga dapat mengenali pola-pola yang terdapat dalam bahasa Inggris dan memprediksi apa yang akan datang berikutnya dalam percakapan atau teks yang diberikan.

Saat kita menggunakan ChatGPT, permodelannya akan menganalisis input yang kita berikan dan menggunakan informasi yang telah dipelajarinya untuk memberikan jawaban yang sesuai berdasarkan informasi yang sudah tersedia. 

Ada kata dua kunci di sini yaitu : pola atau sesuatu yang berulang-ulang dan informasi yang sudah tersedia. 

Artinya jenis-jenis pekerjaan yang berulang dan memiliki rumusan yang sudah pasti dan jelas suatu saat nanti pasti akan lebih mudah tergantikan oleh robot dan kecerdasan buatan. Karena alasan efisiensi AI akan lebih bisa diandalkan karena bisa bekerja berdasarkan data dan bisa terkontrol.

Apakah dengan begini pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan ranah kreatif juga akan dengan mudah tergantikan oleh ChatGPT? 

Menurut Daniel H. Pink, dalam A Whole New Mind, ada jenis-jenis pekerjaan yang terancam, yaitu pekerjaan yang lebih banyak mengandalkan otak kiri yang mengandalkan rasio dan logika karena bersifat repetitif dan berdasarkan data yang pasti. 

Sebaliknya pekerjaan yang banyak mengandalkan otak kanan akan sulit diduplikasi oleh robot karena otak kanan adalah tempatnya kreativitas yang selalu terkait dengan emosi manusia dan momentum yang membuat hasil karya otak kanan seringkali imajinatif dan di luar dugaan. 

Pekerjaan copywriting sendiri tidak pernah memiliki rumus yang pasti, meski ada shortcut tertentu, tetapi seni membuat tulisan untuk menjual kepada manusia tidak akan punya rumus pasti. Seni ini akan berkembang terus mengikuti dinamisnya kehidupan manusia. 

Menjual dengan teknik copywriting adalah seni memahami manusia, emosinya, psikologisnya, dan juga masalah-masalah dari target market itu sendiri. Seni bagaimana membuat sebuah kata-kata menjadi sihir yang menggerakkan seseorang. 

Begitupun dengan pekerjaan penulis, kira-kira bisakah robot membuat plot twist dalam sebuah novel, menciptakan dramatisasi, teknik show don't tell, dan banyak trik tulisan lainnya yang hanya bisa dihasilkan dari ketajaman manusia memahami dan mengamati emosi orang lain. 







1 comment:

  1. Terima kasih sharingnya Mbak 🙏 sangat mencerahkan di kondisi sekarang

    ReplyDelete

Powered by Blogger.